Jangan katakan kepada anakmu: "Jangan mencoret-coret dinding".
Tapi katakan: "Buatlah gambar di kertas, kalau sudah selesai nanti kita gantungkan di dinding, atau di kulkas atau di papan tulis".
Jangan katakan kepada anakmu: "Shalatlah, kalau kamu tidak mau nanti masuk neraka".
Tapi katakanlah: "Mari kita shalat sama-sama supaya nanti kita masuk surga bersama".
Jangan katakan kepada anakmu: "Rapikan kamarmu yang kayak kapal pecah itu".
Tapi katakanlah: "Apakah kamu perlu bantuan untuk merapikan kamar, karena kamu selalu suka kebersihan dan kerapiankan?".
Jangan katakan kepada anakmu: "Ayo segera belajar, jangan main lagi. Belajar lebih penting dari pada main".
Tapi katakanlah: "Kalau kamu menyelesaikan tugas belajar lebih cepat aku akan menemanimu bermain atau melakukan apa saja yang kamu sukai".
Jangan katakan kepada anakmu: "Ayo cepat bersihkan gigimu. Apa mesti setiap saat aku harus ngomong sama kamu?"
Tapi katakanlah: "Aku senang sama kamu, karena kamu selalu membersihkan gigi tanpa harus disuruh-suruh".
Jangan katakan kepada anakmu: "Jangan tidur miring ke kiri".
Tapi katakanlah: "Rasulullah mengajarkan kita untuk tidur miring ke arah kanan".
Jangan katakan kepada anakmu: "
Jangan makan coklat, supaya gigimu tidak sakit".
Tapi katakanlah: "Aku izinkan kamu untuk makan coklat sekali-sekali, karena kamu pintar dan selalu mau membersihkan gigi".
dreaming of a pious wife who treats her husband like a king, loves him like a prince, but she keeps reminding him that he’s a slave of Allah
Sunday, 24 February 2013
Thursday, 22 December 2011
Anak pada Ibunya
Suatu hari seorang anak lelaki bertanya kepada sang ibu....Ibu, jika kelak anakmu ini akan menikah, istri seperti apa yang mesti kupilih?"
Sang Ibu yang bijak pun menjawab,"Nak, seorang istri yang baik adalah dia yang saat kau pandang hilanglah resahmu, saat kau pamit menjemput rizki ia lambaikan tangannya sambil mendoakanmu....
Tak lupa sang Ibu bersyair lirih...
Mencipta rumahnya seindah syurga,menjaga anaknya sebening mata,qonaah adalah selendangnya , sejuk di kalbunya dan tunduk pandangannya.
Tapi Ibu... Aku kan belum tahu sifatnya, bagaimana aku dapat mengenalnya? sang anak menyela. Sang Ibu pun menjawab: "Nak... jika kau ingin melihat kasih sayangnya padamu, lihatlah bagaimana ia memuliakan ayah bundanya . Jika kau ingin tau apakah ia kasih terhadap anak-anakmu kelak , lihatlah perlakuannya terhadap adik kakaknya."
"Nak... Jodohmu sudah ada di tangan Allah, jangan pernah kau khawatirkan. Khawatirlah jika kau belum bisa memperbaiki diri.. khawatirlah bila kau belum pantas menjadi seorang suami bagi pendampingmu. ..khawatirlah jika ibadahmu hanya untuk dilihat olehnya...
Nak, perbaikilah akhlaqmu, maka kau kan dapatkan gadis pujaan hatimu. Luruskan niatmu, maka kau kan dapatkan bidadari dunia akhiratmu, sempurnakan ikhtiarmu, maka jodohmu kan mendekat padamu..
Sang anak pun mulai mengerti, ia membalas syair sang Ibu...
Apabila telah tiba masaku,untuk segera mengakhiri lajangku
Dengan segenap kemampuan yang Allah berikan kepadaku
Insya Allah segera kutunaikan janjiku
Tapi... bila kuraba hati ini
Terbersit pertanyaan silih berganti ..apakah semua ini kulakukan terlalu dini?
Berdegup jantung di dada kendalikan diri
Namun pernikahan begitu indah kudengar
Membuatku ingin segera melaksanakan
Namun bila kulihat aral melintang
Hatiku selalu maju mundur dibuatnya
Akhirnya aku segera tersadar
Hanya kepada Allah lah tempat ku bersandar yang akan menguatkan hatiku yang terkapar
Insya Allah azzamku akan terwujud lancar
Sang Ibu tersenyum dan mendoakan anak tercintanya dengan penuh sabar.
Sang Ibu yang bijak pun menjawab,"Nak, seorang istri yang baik adalah dia yang saat kau pandang hilanglah resahmu, saat kau pamit menjemput rizki ia lambaikan tangannya sambil mendoakanmu....
Tak lupa sang Ibu bersyair lirih...
Mencipta rumahnya seindah syurga,menjaga anaknya sebening mata,qonaah adalah selendangnya , sejuk di kalbunya dan tunduk pandangannya.
Tapi Ibu... Aku kan belum tahu sifatnya, bagaimana aku dapat mengenalnya? sang anak menyela. Sang Ibu pun menjawab: "Nak... jika kau ingin melihat kasih sayangnya padamu, lihatlah bagaimana ia memuliakan ayah bundanya . Jika kau ingin tau apakah ia kasih terhadap anak-anakmu kelak , lihatlah perlakuannya terhadap adik kakaknya."
"Nak... Jodohmu sudah ada di tangan Allah, jangan pernah kau khawatirkan. Khawatirlah jika kau belum bisa memperbaiki diri.. khawatirlah bila kau belum pantas menjadi seorang suami bagi pendampingmu. ..khawatirlah jika ibadahmu hanya untuk dilihat olehnya...
Nak, perbaikilah akhlaqmu, maka kau kan dapatkan gadis pujaan hatimu. Luruskan niatmu, maka kau kan dapatkan bidadari dunia akhiratmu, sempurnakan ikhtiarmu, maka jodohmu kan mendekat padamu..
Sang anak pun mulai mengerti, ia membalas syair sang Ibu...
Apabila telah tiba masaku,untuk segera mengakhiri lajangku
Dengan segenap kemampuan yang Allah berikan kepadaku
Insya Allah segera kutunaikan janjiku
Tapi... bila kuraba hati ini
Terbersit pertanyaan silih berganti ..apakah semua ini kulakukan terlalu dini?
Berdegup jantung di dada kendalikan diri
Namun pernikahan begitu indah kudengar
Membuatku ingin segera melaksanakan
Namun bila kulihat aral melintang
Hatiku selalu maju mundur dibuatnya
Akhirnya aku segera tersadar
Hanya kepada Allah lah tempat ku bersandar yang akan menguatkan hatiku yang terkapar
Insya Allah azzamku akan terwujud lancar
Sang Ibu tersenyum dan mendoakan anak tercintanya dengan penuh sabar.
Monday, 19 December 2011
Arti Pohon Dalam Psikotest
Analisa ini berdasarkan Peneliti Jonathan Rich, Ph.D
1.Pohon anda terletak di mana pada bidang kertas?
* Di tengah
Anda praktis dan rendah hati. Sama seperti anda yang memilih di bagian tengah, anda juga menerapkan pendekatan jalan tengah. Anda menangani masalah-masalah dengan sikap mengharapkan yang terbaik dan membayangkan yang terburuk. Dengan cara ini anda siap dengan apapun yang terjadi.
* Di bagian bawah
Anda lebih suka melakukan riset terlebih dulu sebelum memutuskan apakah anda merasa yakin atau pesimistik akan sebuah solusi, ini disebabkan bagian bawah dari pertengahan halaman melambangkan pendekatan hidup yang membumi.
* Tinggi di atas
Anda melihat hikmah dari semua masalah. Semakin tinggi letak pohon anda menunjukkan sikap anda yang semakin tinggi dalam memandang hidup. Kendati pun hal-hal terjadi tidak seperti yang anda inginkan, anda memandangnya sebagai pengalaman pembelajaran.
2. Batang pohon seperti apa yang anda gambar?
* Lebar
Batang pohon melambangkan kekuatan emosional. Batang lebar berarti anda bisa tetap tenang dan tidak mudah marah. Anda pusat ketenangan di tengah badai. Pendirian anda juga kuat.
* Ramping
Anda fleksibel dan terbuka dengan pandangan-pandangan atau pendapat orang lain. Anda juga sensitif dan banyak empati untuk masalah orang lain.
* Pohon bercabang di puncak
Anda terpecah di antara beberapa pilihan hidup saat ini
3. Berapa tinggi pohon anda?
* Lebih dari setengah tinggi kertas
Menggambar pohon lebih tinggi menunjukkan hasrat untuk mencapai prestasi yang tinggi dalam hidup. Anda juga dermawan dalam soal uang. Dan dalam bekerja anda seksama serta men cek ulang untuk memastikan anda bekerja dengan baik.
* Tinggi pohon kurang dari setengah tinggi kertas
Anda puas dengan hidup ini apa adanya.anda juga hemat dan sangat efisien.
4. Pohon anda terletak di mana?
* Di tanah
Anda mendambakan rasa aman dan stabilitas. Anda menyukai kehidupan keluarga dan lebih suka pekerjaan di mana anda bisa bertahan bertahun-tahun.
* Di pot
Anda sangat sibuk bekerja sepanjang waktu. Anda senang berpergian dan bertualang, serta mengenal orang-orang baru dan tempat-tempat baru.
* Di puncak gunung
Anda mendambakan perhatian dan senang menjadi pusat perhatian. Anda adalah entertainer alamiah dan komunikator ulung yang membuat orang tertarik pada anda.
* Melayang di awang-awang (tidak ada dasarnya)
Anda impulsif dan spontan. Anda sangat mudah menjadi senang jika sesuatu mengilhami anda.
* Di pulau
Anda memerlukan banyak waktu untuk menyendiri untuk mengisi ulang energi anda, juga membantu anda untuk menemukan solusi dari masalah anda
5. Apakah pohon anda mempunyai dahan?
* Ya
Anda adalah orang yang berorientasi pada otak kiri. Dalam survei-survei, dahan-dahan digambar oleh orang yang logis dan analitis. Anda jarang kehilangan kesabaran karena anda terlalu sibuk memikirkan solusi rasional untuk semua masalah yang muncul.
* Tidak
Jika anda hanya menggambar kerangka dasar pohon, berarti anda dikuasai oleh otak kanan yang intuitif. Anda mengikuti instink-instink anda dalam segala sesuatu, mulai dari menerima pekerjaan sampai berteman dengan orang baru. Dan biasanya anda benar.
6. Pohon anda condong ke arah mana?
* Ke kiri
Anda cenderung memendam apa yang anda pikirkan. Sikap anda konsevatif dan introvert. Anda tidak menyukai guncangan-guncangan . Meskipun anda tidak setuju anda akan menyimpannya untuk diri sendiri.
* Ke kanan
Anda berorientasi pada aksi.anda akan mengatakan apa yang anda pikirkan kendatipun bertentangan dengan pandangan-pandangan orang lain.
* Lurus
Anda berada di tengah antara memendam perasaan-perasaan anda dan mengungkapkannya. Jadi anda cenderung memilih perang dengan diri anda. Anda akan bicara hanya jika masalah itu benar-benar penting untuk anda.
7. Apakah anda menggambar akar?
* Ya
Akar melambangkan keluarga dan sejarah, berarti masa lalu penting bagi anda. Anda menganggap itulah dasar dari siapa anda saat inidan membantu anda memahami diri sendiri secara lebih baik anda menyukai tradisi keluarga, resep-resep yang diturunkan dari ibu, juga pusaka/peninggalan dari keluarga anda.
* Tidak
Anda fokus pda masa depan. Anda mandiri dan senang menciptakan tradisi-tradisi baru. Anda belajar lebih banyak tentang diri anda dengan merasakan situasi-situasi baru dan bertemu dengan orang-orang baru.
8. Apakah pohon anda lebih didominasi daun (bagian daun lebih dominan) ?
* Ya
Anda adalah pemikir yang dalam. Studi-studi menunjukkan daun melabangkan pemikiran. Orang-orang yang menggambar daun adalah orang yang selalu memikirkan apa saja. Selain membuat anda suka merenung dan introspeksi, sifat ini juga membuat anda mengambil keputusan dengan hati-hati. Karena anda cenderung melihat manfaat dari semua masalah.
* Tidak
Anda cenderung memandang dunia ini adalah hitam dan putih. Kurangnya daun berarti anda tidak mudah tergoyahkan dengan banyaknya warna abu-abu dari suatu masalah. Anda tidak membuang waktu memusingkan solusi dari sebuah masalah. Anda memilih sevuah rencana aksi dan bergerak ke depan.
9. Apakan anda menggambar yang lain selain pohon?
* Buah / kacang pada pohon
Yangmembuat anda paling bahagia adalah melihat hasil pekerjaan yang dikerjakan dengan baik.
* Rumput di bawah
Anda punya rumah dimana para tamu mersa disambut baik dan keluarga anda betah tinggal disana, mebuat anda merasa paling damai.
* Ada bunga di bawah pohon
Anda paling bahagia jika dikelilingi kebahagiaan (orang-orang disekitar anda bahagia).
* Ada burung/hewan/ orang di sekitar pohon
Anda cinta pada keluarga dan teman-teman, dan itu adalah kebahagaiaan terbesar anda.
* Ada ayunan di pohon
Anda paling bahagia jika meluangkan waktu untuk bersenang-senang.
1.Pohon anda terletak di mana pada bidang kertas?
* Di tengah
Anda praktis dan rendah hati. Sama seperti anda yang memilih di bagian tengah, anda juga menerapkan pendekatan jalan tengah. Anda menangani masalah-masalah dengan sikap mengharapkan yang terbaik dan membayangkan yang terburuk. Dengan cara ini anda siap dengan apapun yang terjadi.
* Di bagian bawah
Anda lebih suka melakukan riset terlebih dulu sebelum memutuskan apakah anda merasa yakin atau pesimistik akan sebuah solusi, ini disebabkan bagian bawah dari pertengahan halaman melambangkan pendekatan hidup yang membumi.
* Tinggi di atas
Anda melihat hikmah dari semua masalah. Semakin tinggi letak pohon anda menunjukkan sikap anda yang semakin tinggi dalam memandang hidup. Kendati pun hal-hal terjadi tidak seperti yang anda inginkan, anda memandangnya sebagai pengalaman pembelajaran.
2. Batang pohon seperti apa yang anda gambar?
* Lebar
Batang pohon melambangkan kekuatan emosional. Batang lebar berarti anda bisa tetap tenang dan tidak mudah marah. Anda pusat ketenangan di tengah badai. Pendirian anda juga kuat.
* Ramping
Anda fleksibel dan terbuka dengan pandangan-pandangan atau pendapat orang lain. Anda juga sensitif dan banyak empati untuk masalah orang lain.
* Pohon bercabang di puncak
Anda terpecah di antara beberapa pilihan hidup saat ini
3. Berapa tinggi pohon anda?
* Lebih dari setengah tinggi kertas
Menggambar pohon lebih tinggi menunjukkan hasrat untuk mencapai prestasi yang tinggi dalam hidup. Anda juga dermawan dalam soal uang. Dan dalam bekerja anda seksama serta men cek ulang untuk memastikan anda bekerja dengan baik.
* Tinggi pohon kurang dari setengah tinggi kertas
Anda puas dengan hidup ini apa adanya.anda juga hemat dan sangat efisien.
4. Pohon anda terletak di mana?
* Di tanah
Anda mendambakan rasa aman dan stabilitas. Anda menyukai kehidupan keluarga dan lebih suka pekerjaan di mana anda bisa bertahan bertahun-tahun.
* Di pot
Anda sangat sibuk bekerja sepanjang waktu. Anda senang berpergian dan bertualang, serta mengenal orang-orang baru dan tempat-tempat baru.
* Di puncak gunung
Anda mendambakan perhatian dan senang menjadi pusat perhatian. Anda adalah entertainer alamiah dan komunikator ulung yang membuat orang tertarik pada anda.
* Melayang di awang-awang (tidak ada dasarnya)
Anda impulsif dan spontan. Anda sangat mudah menjadi senang jika sesuatu mengilhami anda.
* Di pulau
Anda memerlukan banyak waktu untuk menyendiri untuk mengisi ulang energi anda, juga membantu anda untuk menemukan solusi dari masalah anda
5. Apakah pohon anda mempunyai dahan?
* Ya
Anda adalah orang yang berorientasi pada otak kiri. Dalam survei-survei, dahan-dahan digambar oleh orang yang logis dan analitis. Anda jarang kehilangan kesabaran karena anda terlalu sibuk memikirkan solusi rasional untuk semua masalah yang muncul.
* Tidak
Jika anda hanya menggambar kerangka dasar pohon, berarti anda dikuasai oleh otak kanan yang intuitif. Anda mengikuti instink-instink anda dalam segala sesuatu, mulai dari menerima pekerjaan sampai berteman dengan orang baru. Dan biasanya anda benar.
6. Pohon anda condong ke arah mana?
* Ke kiri
Anda cenderung memendam apa yang anda pikirkan. Sikap anda konsevatif dan introvert. Anda tidak menyukai guncangan-guncangan . Meskipun anda tidak setuju anda akan menyimpannya untuk diri sendiri.
* Ke kanan
Anda berorientasi pada aksi.anda akan mengatakan apa yang anda pikirkan kendatipun bertentangan dengan pandangan-pandangan orang lain.
* Lurus
Anda berada di tengah antara memendam perasaan-perasaan anda dan mengungkapkannya. Jadi anda cenderung memilih perang dengan diri anda. Anda akan bicara hanya jika masalah itu benar-benar penting untuk anda.
7. Apakah anda menggambar akar?
* Ya
Akar melambangkan keluarga dan sejarah, berarti masa lalu penting bagi anda. Anda menganggap itulah dasar dari siapa anda saat inidan membantu anda memahami diri sendiri secara lebih baik anda menyukai tradisi keluarga, resep-resep yang diturunkan dari ibu, juga pusaka/peninggalan dari keluarga anda.
* Tidak
Anda fokus pda masa depan. Anda mandiri dan senang menciptakan tradisi-tradisi baru. Anda belajar lebih banyak tentang diri anda dengan merasakan situasi-situasi baru dan bertemu dengan orang-orang baru.
8. Apakah pohon anda lebih didominasi daun (bagian daun lebih dominan) ?
* Ya
Anda adalah pemikir yang dalam. Studi-studi menunjukkan daun melabangkan pemikiran. Orang-orang yang menggambar daun adalah orang yang selalu memikirkan apa saja. Selain membuat anda suka merenung dan introspeksi, sifat ini juga membuat anda mengambil keputusan dengan hati-hati. Karena anda cenderung melihat manfaat dari semua masalah.
* Tidak
Anda cenderung memandang dunia ini adalah hitam dan putih. Kurangnya daun berarti anda tidak mudah tergoyahkan dengan banyaknya warna abu-abu dari suatu masalah. Anda tidak membuang waktu memusingkan solusi dari sebuah masalah. Anda memilih sevuah rencana aksi dan bergerak ke depan.
9. Apakan anda menggambar yang lain selain pohon?
* Buah / kacang pada pohon
Yangmembuat anda paling bahagia adalah melihat hasil pekerjaan yang dikerjakan dengan baik.
* Rumput di bawah
Anda punya rumah dimana para tamu mersa disambut baik dan keluarga anda betah tinggal disana, mebuat anda merasa paling damai.
* Ada bunga di bawah pohon
Anda paling bahagia jika dikelilingi kebahagiaan (orang-orang disekitar anda bahagia).
* Ada burung/hewan/ orang di sekitar pohon
Anda cinta pada keluarga dan teman-teman, dan itu adalah kebahagaiaan terbesar anda.
* Ada ayunan di pohon
Anda paling bahagia jika meluangkan waktu untuk bersenang-senang.
Monday, 24 May 2010
Kenang
Saat aku membuka pintu rumah, abangku telah ada di ruang tamu, ia termenung di pojok, entah apa yang dipikirkannya. Seketika aku ingin menghiburnya, tapi leherku seperti tertekan, suara enggan keluar dari mulutku. Aku duduk di samping kirinya, bisa ku lihat dari ujung matanya, bening dan basah seperti sedang menahan sesuatu yang ingin sekali menerobos. Ia hanya diam, menatap kaki meja, sedang ibuku sibuk membereskan barang-barang abang yang masih tersisa di depan tv.
Aku memberanikan diri memulai, "Bang, nanti kalau abang sampai di sana pasti abang punya banyak teman, jangan lupa sering telpon ke rumah ya?" dengan nada yang kupaksakan ceria, abangku hanya menoleh sebentar ke arahku, lalu wajahnya berpaling lagi.
Hampir lima belas menit kami saling diam, selama itu pula aku dan dia menahan air mata agar tidak jatuh. Aku sebenarnya ingin menangis lagi, tapi aku malu, aku malah berharap ia menangis duluan biar aku punya alasan menangis jika ibuku nanti bertanya kenapa aku menangis. Tapi ia tetap diam, atau mungkin waktu aku masih di sekolah tadi dia sudah capek menangis.
Teriakan adikku membuyarkan khayal sedih kami, aku yakin apa yang baru saja abangku pikirkan tadi sama seperti yang aku pikirkan, aku telah berusaha menyapa dan menguatkan hatinya saat aku menemuinya dalam dunia pikir kami tadi,tapi tak bisa.
Ibu menyuruh abang makan sebelum berangkat, mau tidak mau aku juga ikut makan karena kurang bijak bila aku membiarkannya makan sendirian sementara keadaannya menyedihkan seperti itu.
Ia menyendokkan nasi dengan sangat hati-hati, pelan sekali, sepertinya jika ada satu saja ia menjatuhkan butir nasi Allah akan langsung mengazabnya. Tapi ia tidak bisa menyembunyikan rahasianya dariku, tangannya bergetar hebat saat sendokan pertama, ia hanya mengambil sedikit nasi, tidak seperti sendokan-sendokannya kemarin.Ia tidak langsung makan saat sendokannya selesai, nampak sekali kalau ia ingin menunggu sendokanku selesai dan makan bersamaku, lalu hal yang tidak kuduga pun terjadi, saat kami sama-sama akan memulai suapan pertama kami, aku melihat sekilas, ada air yang menetes di suapan nasinya.
Padahal aku sudah berusaha buta, pura-pura tidak melihat, tapi air mataku memang kurang ajar, aku ikut menangis, ibuku yang sedang berberes-beres di kamar depan nampaknya tidak berminat mendiamkan kami, ia tetap di sana. (belakangan ku ketahui, alasan ibuku tidak pernah datang untuk mendiamkan kami di saat-saat terakhir itu adalah karena beliau juga ikut menangis.)
Ia bertanya, "Kenapa menangis?" ku jawab "Karena abang menangis" lalu sambil terisak aku bertanya, "Abang kenapa menangis? Bukannya sekolah ke jawa itu enak? Dekat dengan Surabaya, abang bisa jalan-jalan ke sana kalau ayah mengunjungi abang?" pelan ia menjawab "Sebentar lagi abang pergi, abang tidak siap, abang tidak pernah berpikir akan meninggalkan rumah secepat ini, abang masih kecil, masih dua belas tahun, lalu abang kepikiran Abi –panggilanku di rumah— kalau abang pergi, Abi main sama siapa? Siapa yang temani Abi tidur? Abang sedih kalau mengingat Abi ketakutan saat tidur sendirian nanti.."
Degg, aku kaget mendengar jawabannya, jadi yang membuat ia sedih belakangan ini adalah karena ia mengkhawatirkan aku. Tidak bisa kutahan lagi isak ini, aku menangis sepuasku dengan suara yang lepas, aku ingin puas-puas menangis di depan abangku ini.
Aku juga dulu memikirkan hal yang sama dengannya, kenapa ayahku tega mengirim abang ke jawa, padahal abang masih kecil, kalau dibandingkan dengan teman-temannya yang sebaya, ia termasuk deretan anak-anak yang pendek.
Saat aku mengajukan protes itu pada ibu saat beliau sedang di dapur, beliau menjawab "Iya, mama tau, mama juga sudah memikirkan hal itu, tapi khan Abi tau sendiri, abang itu sekolahnya di SD Katolik, dari kelas satu dulu dia sudah di sana –karena memang saat itu belum ada Madrasah Ibtidaiyah di kota kami-- nah pertimbangan mama dan ayah, kalau abang tetap melanjutkan sekolahnya di sini takutnya nanti abang tidak mengerti agama sama sekali walaupun mama sebenarnya bisa mengajar, tapi tentunya mama tidak bisa mengajar sebanyak apa yang akan abang terima di jawa nanti, abang khan di jawa akan masuk pondok pesantren."
Kalau ku pikir-pikir, apa yang di katakan ibuku benar juga, aku tahu kalau pengetahuan abang tentang agama sangat minim, yang ia tahu mungkin hanya bacaan-bacaan sholat, baca Al Quran, doa tidur, makan, dan doa-doa simpel lainnya. Untuk hal-hal lain, aku bisa pastikan ia tidak tahu, walaupun di sekolah ia selalu juara, juaranya hanya untuk pendidikan sekolah Katoliknya saja, bukan pendidikan agama Islam, apalagi di sekolahnya tidak diajarkan pelajaran agama Islam.
Aku ingat beberapa minggu yang lalu, saat abangku pulang ujian Ebtanas, ia langsung menghampiriku yang sedang asik dengan game, ia bertanya dengan malu-malu, "Bi, yang benar itu Nabi lahirnya di kota Mekkah atau Madinah? Terus pelajaran membaca Al Quran itu apa sih namanya?"
Aku hampir tertawa dibuatnya, masa itu saja ia tidak tahu, padahal ibu guruku di Madrasah telah mengajarkan hal itu sejak kami kelas satu dulu. Tidak menjawab, aku malah balik bertanya "Emang kenapa bang? Abang tadi ujian agama ya?" sambil mendesah ia menangguk, "Abang menyesal, harusnya waktu pak Yohanes menyuruh bertanya pilih ikut ujian agama Katolik atau Islam? harusnya abang memilih agama Katolik saja, karena abang lebih tau tentang masalah itu." Sambil tersenyum aku berkata "Tidak apa bang, harusnya abang bangga karena abang menentukan pilihan yang tepat, walaupun pengetahuan abang tentang Islam masih sedikit tapi abang membuat keputusan yang berani, abang memilih agama yang benar." masih menahan tawa, aku kembali bertanya "Tapi ngmong-ngmong tadi abang jawab apa?"
Dengan malu-malu abangku bercerita " Hehehe, abang jawab sebisa abang saja, pertanyaan di kota apa Nabi lahir abang jawab saja di Arab, walaupun itu bukan kota tapi lebih aman daripada abang jawab kota tapi salah, terus ilmu yang mengkaji cara-cara membaca Al Quran abang jawab pengajian, karena memang abang tidak tahu apa namanya, semoga di benerin sama pak yang mengoreksi."
Hahahahaha, kali ini tidak bisa menahan tawaku lagi, abang..abang walaupun kau hebat di sekolahmu, tapi kelemahanmu menganga, pertanyaan mudah seperti itu saja kau tidak tahu..
Bersambung..
Aku memberanikan diri memulai, "Bang, nanti kalau abang sampai di sana pasti abang punya banyak teman, jangan lupa sering telpon ke rumah ya?" dengan nada yang kupaksakan ceria, abangku hanya menoleh sebentar ke arahku, lalu wajahnya berpaling lagi.
Hampir lima belas menit kami saling diam, selama itu pula aku dan dia menahan air mata agar tidak jatuh. Aku sebenarnya ingin menangis lagi, tapi aku malu, aku malah berharap ia menangis duluan biar aku punya alasan menangis jika ibuku nanti bertanya kenapa aku menangis. Tapi ia tetap diam, atau mungkin waktu aku masih di sekolah tadi dia sudah capek menangis.
Teriakan adikku membuyarkan khayal sedih kami, aku yakin apa yang baru saja abangku pikirkan tadi sama seperti yang aku pikirkan, aku telah berusaha menyapa dan menguatkan hatinya saat aku menemuinya dalam dunia pikir kami tadi,tapi tak bisa.
Ibu menyuruh abang makan sebelum berangkat, mau tidak mau aku juga ikut makan karena kurang bijak bila aku membiarkannya makan sendirian sementara keadaannya menyedihkan seperti itu.
Ia menyendokkan nasi dengan sangat hati-hati, pelan sekali, sepertinya jika ada satu saja ia menjatuhkan butir nasi Allah akan langsung mengazabnya. Tapi ia tidak bisa menyembunyikan rahasianya dariku, tangannya bergetar hebat saat sendokan pertama, ia hanya mengambil sedikit nasi, tidak seperti sendokan-sendokannya kemarin.Ia tidak langsung makan saat sendokannya selesai, nampak sekali kalau ia ingin menunggu sendokanku selesai dan makan bersamaku, lalu hal yang tidak kuduga pun terjadi, saat kami sama-sama akan memulai suapan pertama kami, aku melihat sekilas, ada air yang menetes di suapan nasinya.
Padahal aku sudah berusaha buta, pura-pura tidak melihat, tapi air mataku memang kurang ajar, aku ikut menangis, ibuku yang sedang berberes-beres di kamar depan nampaknya tidak berminat mendiamkan kami, ia tetap di sana. (belakangan ku ketahui, alasan ibuku tidak pernah datang untuk mendiamkan kami di saat-saat terakhir itu adalah karena beliau juga ikut menangis.)
Ia bertanya, "Kenapa menangis?" ku jawab "Karena abang menangis" lalu sambil terisak aku bertanya, "Abang kenapa menangis? Bukannya sekolah ke jawa itu enak? Dekat dengan Surabaya, abang bisa jalan-jalan ke sana kalau ayah mengunjungi abang?" pelan ia menjawab "Sebentar lagi abang pergi, abang tidak siap, abang tidak pernah berpikir akan meninggalkan rumah secepat ini, abang masih kecil, masih dua belas tahun, lalu abang kepikiran Abi –panggilanku di rumah— kalau abang pergi, Abi main sama siapa? Siapa yang temani Abi tidur? Abang sedih kalau mengingat Abi ketakutan saat tidur sendirian nanti.."
Degg, aku kaget mendengar jawabannya, jadi yang membuat ia sedih belakangan ini adalah karena ia mengkhawatirkan aku. Tidak bisa kutahan lagi isak ini, aku menangis sepuasku dengan suara yang lepas, aku ingin puas-puas menangis di depan abangku ini.
Aku juga dulu memikirkan hal yang sama dengannya, kenapa ayahku tega mengirim abang ke jawa, padahal abang masih kecil, kalau dibandingkan dengan teman-temannya yang sebaya, ia termasuk deretan anak-anak yang pendek.
Saat aku mengajukan protes itu pada ibu saat beliau sedang di dapur, beliau menjawab "Iya, mama tau, mama juga sudah memikirkan hal itu, tapi khan Abi tau sendiri, abang itu sekolahnya di SD Katolik, dari kelas satu dulu dia sudah di sana –karena memang saat itu belum ada Madrasah Ibtidaiyah di kota kami-- nah pertimbangan mama dan ayah, kalau abang tetap melanjutkan sekolahnya di sini takutnya nanti abang tidak mengerti agama sama sekali walaupun mama sebenarnya bisa mengajar, tapi tentunya mama tidak bisa mengajar sebanyak apa yang akan abang terima di jawa nanti, abang khan di jawa akan masuk pondok pesantren."
Kalau ku pikir-pikir, apa yang di katakan ibuku benar juga, aku tahu kalau pengetahuan abang tentang agama sangat minim, yang ia tahu mungkin hanya bacaan-bacaan sholat, baca Al Quran, doa tidur, makan, dan doa-doa simpel lainnya. Untuk hal-hal lain, aku bisa pastikan ia tidak tahu, walaupun di sekolah ia selalu juara, juaranya hanya untuk pendidikan sekolah Katoliknya saja, bukan pendidikan agama Islam, apalagi di sekolahnya tidak diajarkan pelajaran agama Islam.
Aku ingat beberapa minggu yang lalu, saat abangku pulang ujian Ebtanas, ia langsung menghampiriku yang sedang asik dengan game, ia bertanya dengan malu-malu, "Bi, yang benar itu Nabi lahirnya di kota Mekkah atau Madinah? Terus pelajaran membaca Al Quran itu apa sih namanya?"
Aku hampir tertawa dibuatnya, masa itu saja ia tidak tahu, padahal ibu guruku di Madrasah telah mengajarkan hal itu sejak kami kelas satu dulu. Tidak menjawab, aku malah balik bertanya "Emang kenapa bang? Abang tadi ujian agama ya?" sambil mendesah ia menangguk, "Abang menyesal, harusnya waktu pak Yohanes menyuruh bertanya pilih ikut ujian agama Katolik atau Islam? harusnya abang memilih agama Katolik saja, karena abang lebih tau tentang masalah itu." Sambil tersenyum aku berkata "Tidak apa bang, harusnya abang bangga karena abang menentukan pilihan yang tepat, walaupun pengetahuan abang tentang Islam masih sedikit tapi abang membuat keputusan yang berani, abang memilih agama yang benar." masih menahan tawa, aku kembali bertanya "Tapi ngmong-ngmong tadi abang jawab apa?"
Dengan malu-malu abangku bercerita " Hehehe, abang jawab sebisa abang saja, pertanyaan di kota apa Nabi lahir abang jawab saja di Arab, walaupun itu bukan kota tapi lebih aman daripada abang jawab kota tapi salah, terus ilmu yang mengkaji cara-cara membaca Al Quran abang jawab pengajian, karena memang abang tidak tahu apa namanya, semoga di benerin sama pak yang mengoreksi."
Hahahahaha, kali ini tidak bisa menahan tawaku lagi, abang..abang walaupun kau hebat di sekolahmu, tapi kelemahanmu menganga, pertanyaan mudah seperti itu saja kau tidak tahu..
Bersambung..
Friday, 21 May 2010
Belajar dari Salman
Salman Al-Farisi pernah menangis saat sakit di akhir usianya. Sa'ad yang saat itu menjenguk bertanya, "Apa yang membuatmu menangis, wahai saudaraku? Bukankah engkau pernah menemani Rasulullah? Bukankah engkau begini dan begitu?"
Salman menjawab, "Tidaklah aku menangis karena salah satu dari dua hal. Aku tidak menangis karena sakit. Dan tidak pula karena membenci akhirat. Tetapi Rasulullah pernah mengamanatkan sebuah amanat kepadaku hingga tidaklah aku melihat kecuali aku tidak melakukannya."
"Apakah yang beliau amanatkan kepadamu?" tanya Sa'ad dengan heran. Bagaimana mungkin Salman Al-Farisi yang demikian zuhud dan luar biasa tidak mampu menjalankan amanat itu. "Beliau mengamanatkan bahwa hendaklah seorang diantara kalian (menjadi) seperti perbekalan orang yang hendak pergi. Tidaklah diperlihatkan kepadaku kecuali aku telah melampaui batas" jawab Salman.
Itulah Salman. Sahabat yang berprestasi saat menjadi jundi dan pemberi qudwah saat menjadi qiyadah. Ia telah memimpin dengan cinta. Ia telah menyerahkan seluruh gajinya ke baitul mal. Ia tidak pernah memegang uang lebih dari 3 dirham setiap harinya. Hanya 1 dirham untuk makan, 1 dirham disedekahkan, dan 1 dirham untuk modal esok. Adakah yang lebih sederhana dari itu? Namun Salman tetap risau. Ia khawatir bahwa ia telah berlebih-lebihan.
Sikap ini tidak hanya dimiliki oleh Salman. Generasi sahabat adalah generasi zuhud dan wara' serupa itu. Tidak peduli apakah mereka tergolong miskin seperti para ahlu suffah ataukah kaya seperti Usman. Seperti Salman, Usman juga menangis di akhir hayatnya. "Ada sahabat Rasulullah SAW yang jauh lebih baik dariku, yaitu Mus’ab bin Umair, yang ketika wafat tidak meninggalkan harta sedikitpun juga. Ia bahkan tidak punya cukup kain kafan untuk menutupi jasadnya, hingga jika kepalanya ditutup maka kakinya terbuka, jika kakinya ditutup maka kepalanya terbuka. Lalu apa artinya bahwa mendapatkan kekayaan yang melimpah ruah ini sementara mereka tidak?? Tidakkah kekayaan ini malah akan mengantarkan aku ke neraka??" demikian kata-kata dalam isaknya.
Kehidupan kita hari ini jauh lebih mewah daripada jalan yang dipilih Salman. Kalaupun tidak sekaya Usman, kita pun lebih menikmati dunia darinya. Dan pastinya kita belum berinfaq sebanyak Usman atau sehebat Salman.
Lalu mengapa belum ada kerisauan seperti yang dirasakan Salman? Bukankah kita lebih dekat dengan sikap berlebih-lebihan? Bukankah kita jauh lebih mengabaikan amanat Rasulullah itu? Rupanya bukan hanya sikap zuhud dan wara' yang tidak bisa kita miliki, bahkan kita cenderung tidak tahu diri. Merasa aman-aman saja, dan tidak ada masalah. Inilah masalah terbesarnya.
Tanpa kesadaran itu kita akan lebih mudah tertipu. Lebih jauh terperosok dalam jurang dosa, lebih jauh terperangkap dalam belantara maksiat. Hingga sakaratul maut membelalakkan mata kita. Hingga alam barzakh menyentakkan jiwa kita. Saat dua malaikat telah hadir dengan segala pertanyannya...
Salman mengajarkan kepada kita, sebagaimana ia mengajarkannya kepada Sa'ad. Lanjutan dari dialog yang diriwayatkan Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani tersebut menunjukkan bagaimana nasehat Salman: "Adapun kamu wahai Sa'ad, takutlah kamu kepada Allah terhadap keputusanmu ketika kamu memutuskan, atau pembagianmu ketika kamu membagikan, dan dalam keinginanmu ketika kamu menginginkan."
Di akhir hadits itu disebutkan bagaimana sikap Sa'ad selanjutnya. Ketika ia meninggal, ia hanya memiliki kekayaan 20 dirham.
Kita? Maukah mengambil pelajaran darinya?
Sumber: muchlisin.blogspot.com
Salman menjawab, "Tidaklah aku menangis karena salah satu dari dua hal. Aku tidak menangis karena sakit. Dan tidak pula karena membenci akhirat. Tetapi Rasulullah pernah mengamanatkan sebuah amanat kepadaku hingga tidaklah aku melihat kecuali aku tidak melakukannya."
"Apakah yang beliau amanatkan kepadamu?" tanya Sa'ad dengan heran. Bagaimana mungkin Salman Al-Farisi yang demikian zuhud dan luar biasa tidak mampu menjalankan amanat itu. "Beliau mengamanatkan bahwa hendaklah seorang diantara kalian (menjadi) seperti perbekalan orang yang hendak pergi. Tidaklah diperlihatkan kepadaku kecuali aku telah melampaui batas" jawab Salman.
Itulah Salman. Sahabat yang berprestasi saat menjadi jundi dan pemberi qudwah saat menjadi qiyadah. Ia telah memimpin dengan cinta. Ia telah menyerahkan seluruh gajinya ke baitul mal. Ia tidak pernah memegang uang lebih dari 3 dirham setiap harinya. Hanya 1 dirham untuk makan, 1 dirham disedekahkan, dan 1 dirham untuk modal esok. Adakah yang lebih sederhana dari itu? Namun Salman tetap risau. Ia khawatir bahwa ia telah berlebih-lebihan.
Sikap ini tidak hanya dimiliki oleh Salman. Generasi sahabat adalah generasi zuhud dan wara' serupa itu. Tidak peduli apakah mereka tergolong miskin seperti para ahlu suffah ataukah kaya seperti Usman. Seperti Salman, Usman juga menangis di akhir hayatnya. "Ada sahabat Rasulullah SAW yang jauh lebih baik dariku, yaitu Mus’ab bin Umair, yang ketika wafat tidak meninggalkan harta sedikitpun juga. Ia bahkan tidak punya cukup kain kafan untuk menutupi jasadnya, hingga jika kepalanya ditutup maka kakinya terbuka, jika kakinya ditutup maka kepalanya terbuka. Lalu apa artinya bahwa mendapatkan kekayaan yang melimpah ruah ini sementara mereka tidak?? Tidakkah kekayaan ini malah akan mengantarkan aku ke neraka??" demikian kata-kata dalam isaknya.
Kehidupan kita hari ini jauh lebih mewah daripada jalan yang dipilih Salman. Kalaupun tidak sekaya Usman, kita pun lebih menikmati dunia darinya. Dan pastinya kita belum berinfaq sebanyak Usman atau sehebat Salman.
Lalu mengapa belum ada kerisauan seperti yang dirasakan Salman? Bukankah kita lebih dekat dengan sikap berlebih-lebihan? Bukankah kita jauh lebih mengabaikan amanat Rasulullah itu? Rupanya bukan hanya sikap zuhud dan wara' yang tidak bisa kita miliki, bahkan kita cenderung tidak tahu diri. Merasa aman-aman saja, dan tidak ada masalah. Inilah masalah terbesarnya.
Tanpa kesadaran itu kita akan lebih mudah tertipu. Lebih jauh terperosok dalam jurang dosa, lebih jauh terperangkap dalam belantara maksiat. Hingga sakaratul maut membelalakkan mata kita. Hingga alam barzakh menyentakkan jiwa kita. Saat dua malaikat telah hadir dengan segala pertanyannya...
Salman mengajarkan kepada kita, sebagaimana ia mengajarkannya kepada Sa'ad. Lanjutan dari dialog yang diriwayatkan Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani tersebut menunjukkan bagaimana nasehat Salman: "Adapun kamu wahai Sa'ad, takutlah kamu kepada Allah terhadap keputusanmu ketika kamu memutuskan, atau pembagianmu ketika kamu membagikan, dan dalam keinginanmu ketika kamu menginginkan."
Di akhir hadits itu disebutkan bagaimana sikap Sa'ad selanjutnya. Ketika ia meninggal, ia hanya memiliki kekayaan 20 dirham.
Kita? Maukah mengambil pelajaran darinya?
Sumber: muchlisin.blogspot.com
Wednesday, 14 April 2010
Read
Seperti biasa Arya, Karyawan di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Rana, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya.Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama. "Kok, belum tidur ?" sapa Arya sambil mencium anaknya.
Biasanya Rana memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Rana menjawab, "Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?" "Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?"
"Ah, enggak. Pengen tahu aja" ucap Rana singkat."Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja.Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?"
Rana berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Arya beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Rana berlari mengikutinya. "Kalo satu hari Papa dibayar Rp. 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp.40.000,- dong" katanya.
"Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur" perintah Arya
Tetapi Rana tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian,Rana kembali bertanya, "Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?" "Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah"."Tapi Papa..."
Kesabaran Arya pun habis. "Papa bilang tidur !" hardiknya mengejutkan Rana.Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.
Usai mandi, Arya nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Rana di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Rana didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Arya berkata "Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Rana. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini ? "
"Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp. 5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih" jawab Arya "Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini".
"lya, iya, tapi buat apa ?" tanya Arya lembut.
"Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp. 15.000,- tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp.5.000, makanya aku mau pinjam dari Papa" kata Rana polos.
Arya pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk "MEMBELI" kebahagiaan anaknya.
Biasanya Rana memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Rana menjawab, "Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?" "Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?"
"Ah, enggak. Pengen tahu aja" ucap Rana singkat."Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja.Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?"
Rana berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Arya beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Rana berlari mengikutinya. "Kalo satu hari Papa dibayar Rp. 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp.40.000,- dong" katanya.
"Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur" perintah Arya
Tetapi Rana tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian,Rana kembali bertanya, "Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?" "Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah"."Tapi Papa..."
Kesabaran Arya pun habis. "Papa bilang tidur !" hardiknya mengejutkan Rana.Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.
Usai mandi, Arya nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Rana di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Rana didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Arya berkata "Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Rana. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini ? "
"Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp. 5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih" jawab Arya "Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini".
"lya, iya, tapi buat apa ?" tanya Arya lembut.
"Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp. 15.000,- tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp.5.000, makanya aku mau pinjam dari Papa" kata Rana polos.
Arya pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk "MEMBELI" kebahagiaan anaknya.
Thursday, 1 April 2010
Aku Punya Cerita
Cerita dimulai ketika pagi ini aku sarapan "hanya" dengan sebuah telur dadar pucat pasi tanpa cabai dengan sedikit garam. Enak atau tidaknya bukan masalah, yang penting adalah pagi ini perutku tidak lagi meneriakkan sumpah serapahnya. Setiap tahapan untuk menjadi telur dadar sejati yang diakui secara Internasional, kukerjakan sendiri.
Nasi ditambah telur dadar pucat pasi tidak terlalu buruk untuk seorang rookie di dunia rantau-merantaun. Memang, keinginan untuk melanjutkan hidup dan merajut masa depan memaksa kebanyakan orang untuk meninggalkan rumah, kampung, halaman, keluarga. kisah tragis itu ternyata berlaku juga untukku.
Nasi beserta telur dadar pucat pasi siap disantap, seperti biasa aku mengernyitkan dahi mengukur kesimetrisan telur ini dan membandingkannya dengan banyaknya tumpukan nasi. Hal ini kulakukan agar terjadi keadilan bagi semua makhluk sampai akhirnya kutemukan bahwa 12 potongan simetris telur dadar ini akan cukup untuk menghabiskan sepiring nasiku. Untuk dicatat bahwa pekerjaan ini hanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki rasa keadilan yang luar biasa. Sangat cocok dijadikan pemimpin Sumatera Barat selanjutnya. Karena itu contrenglah nomor 20 pada kertas suara anda pada Pemilihan Cagub dan Cawagub nanti. ^_^
Berikut ini kupaparkan beberapa suapan tersebut:
Suapan pertama dimulai dengan Basmallah. Kunyahan demi Kunyahan pun juga dimulai, luar biasa, ternyata rasanya memang benar-benar seperti yang diduga, tawar, hambar, benar-benar hampa. Aku menikmatinya hingga aku teringat sebuah episode, scene ini tervisualisasi jelas di otakku. Seorang ayah, ibu dan 2 orang anak laki-lakinya. Sang Ayah baru saja gajian. Pulang dengan wajah berseri mengenggam sebuah bungkusan. Setekah dibuka ternyata isinya adalah subungkus nasi beserta lauknya yang dahsyat lezatnya. Nasi dibuka, dibagi menjadi 2 bagian dan setiap bagian ditambah lagi dengan nasi putih yang baru matang, dimasak ibu. Ini dilakukan agar nasi bungkus nya cukup untuk semua orang.
Aku melanjutkan suapan nasi+telur dadar pucat pasi ku, suapan ini membawaku ke episode selanjutnya saat 2 bocah ini memiliki seorang adik yang lucu bukan main. Si anak tengah saat itu telah menjadi anak yang super lincah, hobinya bermain dan belajar. belajar tentu saja bukan prioritas, bermainlah yang utama. Si anak tengah memiliki sedikit kenakalan dimana dia suka sekali bermain hingga sore hari. Suatu hari dia bersama membawa adik kecilnya ke rumah seoarang teman untuk bermain "monopoli". Di saat yang sama sang Ayah mencari mereka berdua kemana-mana. hari itu adalah jadwal rutin mereka untuk pulang ke desa mereka. Si tengah di amanahi untuk menjaga adiknya serta tetap tinggal di rumah hingga sang Ayah pulang dan menjemput mereka berdua. Singkatnya, saat sore hari mereka pulang dengan ceria, mereka kaget menemukan bahwa sang Ayah telah pulang, mereka menemukan sebilah bambu di atas meja. Si bungsu bertanya,"wahai Kakanda yang budiman, untuk apakah bambu ini gerangan?". "Kakanda tidak mengetahuinya wahai Adinda, mungkin saja untuk memukuli kita berdua". Tebakan sang kakak tepat, sang Ayah murka, memukul mereka dan mengurung mereka di kamar sebagai hukuman.
Baru saja aku menelan sebuah suapan lagi, rasanya mulai berubah asin, garamnya ternyata tidak teraduk sempurna. Aku mengambil minuman, tegukan demi tegukanku beralih menjadi tegukan demi tegukan si anak Tengah. Matahari bersinar terik hari itu, hari Minggu. Si Sulung, si Tengah, si Bungsu bersama Ayah, Ibu, dan Nenek nya pergi ke ladang hari itu. Itulah kebiasaan keluarga ini setiap minggunya, sabtu pulang ke desa dan minggu nya ke ladang. Mereka bersiap-siap pualng saat sang Ayah mengambil sebuah kayu rapuh dimakan usia, membaginya menjadi 3 tidak sama besar dan menyerahkannya ke ketiga anaknya. Kayu ini harus mereka pikul sebagai beban agar nanti bisa digunakan untuk pengapian tungku. Si Sulung mendapatkan kayu yang cukup besar, dengan tubuh yang besar pula tentu dia mampu memikulnya. Si Tengah kebagian kayu yang besar, walaupun tidak sebesar yang didapatkan si Sulung. Si Bungsu yang masih kecil cuma kebagian ranting. Hidup memang adil bukan. Mereka pulang dengan membawa hasil panen ladang. Sore teduh itupun mengiringi kepulangan keluarga ini.
Suapan terakhir telah kuselesaikan. Aku yakin cacing diperutku tidak akan menggeliat lagi setelah aku timpuk dengan bundelan-bundelan nasi. Alhamdulillah.
Aku tersenyum, sepenggal kisah masa kecilku sangat indah. Walaupun kami hidup dalam keterbatasan, kesederhanaan bahkan kekurangan.
Pukulan-pukulan Ayah, nasehat-nasehat Ibu telah mendewasakan kami, membentuk 3 anak yang kuat dan berbakti Insya Allah.
Kuakhiri Cerita ini
Kamis, 1 April 2010 pukul 08.43 WIB
Dinaungi sejuknya udara pagi dalam kamar tempatku menata hidup
kisah ini kudedikasikan untuk ayah ku tercinta yang tepat hari ini berulang tahun, happy birthday dad, aku tahu engkau telah letih mendidikku yang sangat nakal ini. well, aku sekarang begini itu semua karena ayah. i love you dad.
ps: for my brother, home soon brother, we all miss u
Nasi ditambah telur dadar pucat pasi tidak terlalu buruk untuk seorang rookie di dunia rantau-merantaun. Memang, keinginan untuk melanjutkan hidup dan merajut masa depan memaksa kebanyakan orang untuk meninggalkan rumah, kampung, halaman, keluarga. kisah tragis itu ternyata berlaku juga untukku.
Nasi beserta telur dadar pucat pasi siap disantap, seperti biasa aku mengernyitkan dahi mengukur kesimetrisan telur ini dan membandingkannya dengan banyaknya tumpukan nasi. Hal ini kulakukan agar terjadi keadilan bagi semua makhluk sampai akhirnya kutemukan bahwa 12 potongan simetris telur dadar ini akan cukup untuk menghabiskan sepiring nasiku. Untuk dicatat bahwa pekerjaan ini hanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki rasa keadilan yang luar biasa. Sangat cocok dijadikan pemimpin Sumatera Barat selanjutnya. Karena itu contrenglah nomor 20 pada kertas suara anda pada Pemilihan Cagub dan Cawagub nanti. ^_^
Berikut ini kupaparkan beberapa suapan tersebut:
Suapan pertama dimulai dengan Basmallah. Kunyahan demi Kunyahan pun juga dimulai, luar biasa, ternyata rasanya memang benar-benar seperti yang diduga, tawar, hambar, benar-benar hampa. Aku menikmatinya hingga aku teringat sebuah episode, scene ini tervisualisasi jelas di otakku. Seorang ayah, ibu dan 2 orang anak laki-lakinya. Sang Ayah baru saja gajian. Pulang dengan wajah berseri mengenggam sebuah bungkusan. Setekah dibuka ternyata isinya adalah subungkus nasi beserta lauknya yang dahsyat lezatnya. Nasi dibuka, dibagi menjadi 2 bagian dan setiap bagian ditambah lagi dengan nasi putih yang baru matang, dimasak ibu. Ini dilakukan agar nasi bungkus nya cukup untuk semua orang.
Aku melanjutkan suapan nasi+telur dadar pucat pasi ku, suapan ini membawaku ke episode selanjutnya saat 2 bocah ini memiliki seorang adik yang lucu bukan main. Si anak tengah saat itu telah menjadi anak yang super lincah, hobinya bermain dan belajar. belajar tentu saja bukan prioritas, bermainlah yang utama. Si anak tengah memiliki sedikit kenakalan dimana dia suka sekali bermain hingga sore hari. Suatu hari dia bersama membawa adik kecilnya ke rumah seoarang teman untuk bermain "monopoli". Di saat yang sama sang Ayah mencari mereka berdua kemana-mana. hari itu adalah jadwal rutin mereka untuk pulang ke desa mereka. Si tengah di amanahi untuk menjaga adiknya serta tetap tinggal di rumah hingga sang Ayah pulang dan menjemput mereka berdua. Singkatnya, saat sore hari mereka pulang dengan ceria, mereka kaget menemukan bahwa sang Ayah telah pulang, mereka menemukan sebilah bambu di atas meja. Si bungsu bertanya,"wahai Kakanda yang budiman, untuk apakah bambu ini gerangan?". "Kakanda tidak mengetahuinya wahai Adinda, mungkin saja untuk memukuli kita berdua". Tebakan sang kakak tepat, sang Ayah murka, memukul mereka dan mengurung mereka di kamar sebagai hukuman.
Baru saja aku menelan sebuah suapan lagi, rasanya mulai berubah asin, garamnya ternyata tidak teraduk sempurna. Aku mengambil minuman, tegukan demi tegukanku beralih menjadi tegukan demi tegukan si anak Tengah. Matahari bersinar terik hari itu, hari Minggu. Si Sulung, si Tengah, si Bungsu bersama Ayah, Ibu, dan Nenek nya pergi ke ladang hari itu. Itulah kebiasaan keluarga ini setiap minggunya, sabtu pulang ke desa dan minggu nya ke ladang. Mereka bersiap-siap pualng saat sang Ayah mengambil sebuah kayu rapuh dimakan usia, membaginya menjadi 3 tidak sama besar dan menyerahkannya ke ketiga anaknya. Kayu ini harus mereka pikul sebagai beban agar nanti bisa digunakan untuk pengapian tungku. Si Sulung mendapatkan kayu yang cukup besar, dengan tubuh yang besar pula tentu dia mampu memikulnya. Si Tengah kebagian kayu yang besar, walaupun tidak sebesar yang didapatkan si Sulung. Si Bungsu yang masih kecil cuma kebagian ranting. Hidup memang adil bukan. Mereka pulang dengan membawa hasil panen ladang. Sore teduh itupun mengiringi kepulangan keluarga ini.
Suapan terakhir telah kuselesaikan. Aku yakin cacing diperutku tidak akan menggeliat lagi setelah aku timpuk dengan bundelan-bundelan nasi. Alhamdulillah.
Aku tersenyum, sepenggal kisah masa kecilku sangat indah. Walaupun kami hidup dalam keterbatasan, kesederhanaan bahkan kekurangan.
Pukulan-pukulan Ayah, nasehat-nasehat Ibu telah mendewasakan kami, membentuk 3 anak yang kuat dan berbakti Insya Allah.
Kuakhiri Cerita ini
Kamis, 1 April 2010 pukul 08.43 WIB
Dinaungi sejuknya udara pagi dalam kamar tempatku menata hidup
kisah ini kudedikasikan untuk ayah ku tercinta yang tepat hari ini berulang tahun, happy birthday dad, aku tahu engkau telah letih mendidikku yang sangat nakal ini. well, aku sekarang begini itu semua karena ayah. i love you dad.
ps: for my brother, home soon brother, we all miss u
Subscribe to:
Posts (Atom)