dreaming of a pious wife who treats her husband like a king, loves him like a prince, but she keeps reminding him that he’s a slave of Allah
Wednesday, 14 April 2010
Read
Biasanya Rana memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Rana menjawab, "Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?" "Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?"
"Ah, enggak. Pengen tahu aja" ucap Rana singkat."Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja.Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?"
Rana berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Arya beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Rana berlari mengikutinya. "Kalo satu hari Papa dibayar Rp. 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp.40.000,- dong" katanya.
"Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur" perintah Arya
Tetapi Rana tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian,Rana kembali bertanya, "Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?" "Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah"."Tapi Papa..."
Kesabaran Arya pun habis. "Papa bilang tidur !" hardiknya mengejutkan Rana.Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.
Usai mandi, Arya nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Rana di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Rana didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Arya berkata "Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Rana. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini ? "
"Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp. 5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih" jawab Arya "Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini".
"lya, iya, tapi buat apa ?" tanya Arya lembut.
"Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp. 15.000,- tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp.5.000, makanya aku mau pinjam dari Papa" kata Rana polos.
Arya pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk "MEMBELI" kebahagiaan anaknya.
Thursday, 1 April 2010
Aku Punya Cerita
Nasi ditambah telur dadar pucat pasi tidak terlalu buruk untuk seorang rookie di dunia rantau-merantaun. Memang, keinginan untuk melanjutkan hidup dan merajut masa depan memaksa kebanyakan orang untuk meninggalkan rumah, kampung, halaman, keluarga. kisah tragis itu ternyata berlaku juga untukku.
Nasi beserta telur dadar pucat pasi siap disantap, seperti biasa aku mengernyitkan dahi mengukur kesimetrisan telur ini dan membandingkannya dengan banyaknya tumpukan nasi. Hal ini kulakukan agar terjadi keadilan bagi semua makhluk sampai akhirnya kutemukan bahwa 12 potongan simetris telur dadar ini akan cukup untuk menghabiskan sepiring nasiku. Untuk dicatat bahwa pekerjaan ini hanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki rasa keadilan yang luar biasa. Sangat cocok dijadikan pemimpin Sumatera Barat selanjutnya. Karena itu contrenglah nomor 20 pada kertas suara anda pada Pemilihan Cagub dan Cawagub nanti. ^_^
Berikut ini kupaparkan beberapa suapan tersebut:
Suapan pertama dimulai dengan Basmallah. Kunyahan demi Kunyahan pun juga dimulai, luar biasa, ternyata rasanya memang benar-benar seperti yang diduga, tawar, hambar, benar-benar hampa. Aku menikmatinya hingga aku teringat sebuah episode, scene ini tervisualisasi jelas di otakku. Seorang ayah, ibu dan 2 orang anak laki-lakinya. Sang Ayah baru saja gajian. Pulang dengan wajah berseri mengenggam sebuah bungkusan. Setekah dibuka ternyata isinya adalah subungkus nasi beserta lauknya yang dahsyat lezatnya. Nasi dibuka, dibagi menjadi 2 bagian dan setiap bagian ditambah lagi dengan nasi putih yang baru matang, dimasak ibu. Ini dilakukan agar nasi bungkus nya cukup untuk semua orang.
Aku melanjutkan suapan nasi+telur dadar pucat pasi ku, suapan ini membawaku ke episode selanjutnya saat 2 bocah ini memiliki seorang adik yang lucu bukan main. Si anak tengah saat itu telah menjadi anak yang super lincah, hobinya bermain dan belajar. belajar tentu saja bukan prioritas, bermainlah yang utama. Si anak tengah memiliki sedikit kenakalan dimana dia suka sekali bermain hingga sore hari. Suatu hari dia bersama membawa adik kecilnya ke rumah seoarang teman untuk bermain "monopoli". Di saat yang sama sang Ayah mencari mereka berdua kemana-mana. hari itu adalah jadwal rutin mereka untuk pulang ke desa mereka. Si tengah di amanahi untuk menjaga adiknya serta tetap tinggal di rumah hingga sang Ayah pulang dan menjemput mereka berdua. Singkatnya, saat sore hari mereka pulang dengan ceria, mereka kaget menemukan bahwa sang Ayah telah pulang, mereka menemukan sebilah bambu di atas meja. Si bungsu bertanya,"wahai Kakanda yang budiman, untuk apakah bambu ini gerangan?". "Kakanda tidak mengetahuinya wahai Adinda, mungkin saja untuk memukuli kita berdua". Tebakan sang kakak tepat, sang Ayah murka, memukul mereka dan mengurung mereka di kamar sebagai hukuman.
Baru saja aku menelan sebuah suapan lagi, rasanya mulai berubah asin, garamnya ternyata tidak teraduk sempurna. Aku mengambil minuman, tegukan demi tegukanku beralih menjadi tegukan demi tegukan si anak Tengah. Matahari bersinar terik hari itu, hari Minggu. Si Sulung, si Tengah, si Bungsu bersama Ayah, Ibu, dan Nenek nya pergi ke ladang hari itu. Itulah kebiasaan keluarga ini setiap minggunya, sabtu pulang ke desa dan minggu nya ke ladang. Mereka bersiap-siap pualng saat sang Ayah mengambil sebuah kayu rapuh dimakan usia, membaginya menjadi 3 tidak sama besar dan menyerahkannya ke ketiga anaknya. Kayu ini harus mereka pikul sebagai beban agar nanti bisa digunakan untuk pengapian tungku. Si Sulung mendapatkan kayu yang cukup besar, dengan tubuh yang besar pula tentu dia mampu memikulnya. Si Tengah kebagian kayu yang besar, walaupun tidak sebesar yang didapatkan si Sulung. Si Bungsu yang masih kecil cuma kebagian ranting. Hidup memang adil bukan. Mereka pulang dengan membawa hasil panen ladang. Sore teduh itupun mengiringi kepulangan keluarga ini.
Suapan terakhir telah kuselesaikan. Aku yakin cacing diperutku tidak akan menggeliat lagi setelah aku timpuk dengan bundelan-bundelan nasi. Alhamdulillah.
Aku tersenyum, sepenggal kisah masa kecilku sangat indah. Walaupun kami hidup dalam keterbatasan, kesederhanaan bahkan kekurangan.
Pukulan-pukulan Ayah, nasehat-nasehat Ibu telah mendewasakan kami, membentuk 3 anak yang kuat dan berbakti Insya Allah.
Kuakhiri Cerita ini
Kamis, 1 April 2010 pukul 08.43 WIB
Dinaungi sejuknya udara pagi dalam kamar tempatku menata hidup
kisah ini kudedikasikan untuk ayah ku tercinta yang tepat hari ini berulang tahun, happy birthday dad, aku tahu engkau telah letih mendidikku yang sangat nakal ini. well, aku sekarang begini itu semua karena ayah. i love you dad.
ps: for my brother, home soon brother, we all miss u
Wednesday, 3 March 2010
Biji “apel” itu kini siap tumbuh kembali
Aku mulai membaca lembaran demi lembaran hingga aku terhenti di sebuah lembaran yang usia nya kira-kira 6 tahun. Lembaran yang berupa surat ini kudapatkan saat aku masih duduk di bangku tsanawiyah dulu. Sebuah judul yang diboldkan tertera jelas disana. Aku mulai membaca.
Untuk:
FADLLI
Di
Empat Dua
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh
Terlebih dahulu ustadz mengucapkan selamat dan sukses pada antum semua, karena berkat ketekunan dan kebersamaan, Alhamdulillah antum semua, bisa naik kelas dengan nilai yang relatif baik. Mudah-mudahan prestasi yang antum raih hari ini dapat memacu dan memicu antum untuk lebih bersemangat dan bergairah untuk mengejar cita-cita dan masa depan yang sangat begitu cerah. Amiin.
Disaat ustadz selesai mengisi rafor antum semua, terlintas di benak ustadz untuk memberikan semacam “bingkisan” untuk kalian. Namun ustadz kebingungan, bingkisan apa yang akan ustadz berikan, mau membelikan sesuatu, apa yang akan dibelikan, dan menurut hemat ustadz, hal yang seperti itu juga tidak cukup bermanfaat, di samping –jujur saja- ustadz ndak punya duit yang cukup buat itu he...he... Akhirnya ustadz berjalan dari asrama menuju kantor majlis guru dan mencoba mengerakkan jari jemari ustadz di atas keyboard di Komputer. Ustadz kemudian mencoba menuliskan kalimat demi kalimat di atas kertas yang sedang antum pegang ini.
Mungkin apa yang ditulis diatas kertas ini, tidak ada yang terlalu istimewa. Bahkan berkemngkinan hanya akan membuat antum bosan dan agak jengkel, karena apa yang tertulis ini sudah sering ustadz atau orang lain sampaikan. Akan tetapi, tulisan ini ustadz tuliskan, dilatar belakangi oleh begitu besarnya harapasn ustadz agar antum semua, bisa menjadi orang yang sukses, baik dari segi ilmu pengetahuan, ibadah, maupun dari segi kepribadian dan akhlak. Kalaupaun antum kurang tertarik dengan tulisan ini, yang penting antum mampu dan bisa meraih apa yang antum dan orangtua antum cita-citakan, sesuai dengan inti dari goresan sederhana ini.
Beberapa bulan yang lalu dalam buku “You will see ii if you believe it”, karangan Wayne D. Dyer, ustadz menemukan kata-kata mutiara yang memberikan motivasi bagi kita untuk lebih kreatif dan bersemangat dalam hidup ini, Wayne menyatakan:
It is a simple prosedure to calculate the number of seeds in an apple. But who among us can Ever say how many apples are in a seed? (artinyo cari se yo)
Dalam kata-kata di atas Wayne menggambarkan bahwa semua orang mampu menghitung berapa jumlah biji yang ada dalam sebuah apel, namun siapa yang mampu menerka dan menebak berapa buah apel yang akan dihasilkan oleh sebuah biji apel yang kita tana.
Wayne dalam kata-katanya di atas, mencoba mengibaratkan manusia itu sebagai sebuah biji apel. Artinya apa, Wayne mengingatkan pada kita bahwa kita tidak bisa mengetahui secara pasti potensi dan kemampuan yang kita miliki, kita tidak bisa memvonis bahwa diri kita dalah apa yang tampak oleh mata kita saat ini. Apalagi untuk mengatakan bahwa kita hanya yang ada saat ini saja, kalau saya sekarang begini, maka itulah saya sebenarnya, saya tidak mungkin berubah, saya tidak mungkin berubah, saya tidak mungkin bisa sukses dan menjadi orang berhasil, saya tidak bisa ini dan itu, saya hanya bisa ini dan itu saja. Itu adalah ungkapan-ungkapan yang sangat naif. Dengan kata lain, Wayne menyadarkan kita bahwa sebetulnya kita ini adalah bibit yang akan sangat mungkin untuk menghasilkan buah dengan jumlah yang tak terbatas. Di dalam diri kita yang secara fisik dhaif dan lemah ini, bersemayam berbagai macam potensi dan kemampuan, yang kalau kita tumbuhkembangkan akan menghasilkan buah yang luar biasa dan menakjubkan.
Kita mungkin sat ini tak tahu, bahwa sebetulnya mempunyai potensi untuk jadi orang terkenal, pengusaha besar, atau mungkin menjadi seorang ilmuwan yang mumpuni. Oleh sebab itu sekali lagi, jangan sekali-kali kita meracuni diri kita, jangan kita “membunuh” diri kita. Jangan sekali-kali menyatakan bahwa karena kemampuan saya seperti ini, saya tidak mungkin bisa begini atau karena orangtua saya begini atau karena alasan-alasan bodoh lainya saya tidak mungkin sukses dan berhasil. Atau hal yang paling memalukan kita berkata: Saya tidak bisa apa-apa. Jangan pernah menjadikan hal-hal yang kita hadapi sebagai dalih untuk membunuh potensi yang ada dalam diri kita.
Jadi, dengan dasar diatas, kita harus berpikiran positif, kita harus meyakini bahwa kita sebetulnya mempunyai potensi dan kesempatan untuk menjadi orang sukses. Kalau kita sudah mempunyai keyakinan yang seperti ini, ustadz yakin, semua kita termasuk orang lain akan selalu bersemangat dalam hidupnya. Orang yang mempunyai keyakinan seperti ini, Insya Allah akan sangat berpeluang untuk menjadi orang sukses. Jadi hal yang pertama yang harus dimiliki adalah keyakinan dalam diri kita bahwa sebetulnya kita ini mempunyai potensi yang luar biasa hebatnya. Kalau orang tidak punya keyakinan seperti ini, maka ia akan menjadi orang yang pesimis, apatis dan putus asa, dan akhirnya ia menjadi manusia yang mati sebelum malaikat mencabut nyawanya.
Namun kita harus ingat bahwa modal keyakinan diatas saja, tidaklah cukup mengantarkan kita pada kesuksesan. Setelah mempunyai keyakinan di atas, kita harus mempunyai modal yang kedua, yaitu usaha dan kerja keras. Biji yang ada di tangan kita tidak bisa dengan sim salabim berubah menjadi buah apel. Tanpa usaha untuk menanam dan menumbuhkembangkannya. Untuk menjadi seorang yang berhasil dan sukses kita juga harus berusaha. Salah satu usaha untuk menumbuhkembangkan potensi yang kita miliki itu adalah dengan belajar dan menuntut ilmu pengetahuan. Mencari ilmu pengetahuan itu bisa dengan mengamati, membaca, merenung, berdiskusi atau dengan cara-cara lain yang sudah kita kenal.
Jan serius bana yo.
Belajar, atau dalam konteks yang agak umum, usaha dalam mengembangkan potensi ini memang berat dan mempunyai tantangan yang sangat besar, namun kita harus tabah dan sabar melalui semua itu, kita harus tabah duduk sekian jam untuk membaca dan mengulang pelajaran, kita harus sabar mengerjakan tugas, mengikuti ujian, menerima teguran atau mungkin “bentakan” dari guru kita. Karena biji apel pun juga melewati perjuangan, tantangan serta usaha yang sangat berat dan melelahkan untuk tumbuh menjadi sebuah pohon yang menghasilkan buah. Pertama-tama ia harus rela untuk menguburkan diri dalam tanah yang kotor dan dingin, setelah itu ia harus tumbuh menjadi sebuah anak apel yang harus siap menghadapi perubahan suhu udara, bahkan kadangkala ia harus rela diinjak dan diganggu oleh binatang ataupun manusia yang lewat disamping batangnya. Setelah besar ia pun harus terus berjuang untuk menahan angin atau gangguan alam yang selalu siap mengancam kehidupannya. Kalau seperti itu keadaannya, apakah sebagai makhluk hidup yang mempunyai daya akal dan nalar akan kalah dengan sebatang apel yang tidak diberikan “apa-apa” oleh sang Khalik. Atau dengan bahasa yang lebih lembut, tidakkah kita mau belajar dari apel tersebut.
Mungkin itu yang bisa ustadz tuliskan, karena sekarang sudah jam sebelas lewat sepuluh malam, dan mata ustadz sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Namun sebelumnya ustadz akan menyimpulkan dan menyampaikan tips sukses, diantaronyo:
1. Awak harus punyo keyakinan baraso awak sangaik bisa menjadi urang sukses.
2. Awak harus rajin bausaho untuak mancapai cito-cito yang awak cito-citokan, jadi jan maleh baraja, apo lai ndak amuah mambaco atau banyak main. Pagunokan wakatu sabaiak-baiaknyo, karano maso mudo adolah maso yang sangaik potensial untuak mangambangkan diri.
3. Iringi usaho dengan selalu baibadaik ka Tuhan, salalu badoa ka Tuhan, salalu maingek Tuhan, jan sampai lupo ka Allah SWT, tunduakkan diri selalu ka Tuhan, karano bara bana pintar, hebatnyo awak, kalau indak tunduak ka Tuhan akia-akia nyo pasti akan hancua, dan hiduik indak ado keberkahannyo, apolai lupo shalat (Awak anak parabek ko a).
4. Yang ndak kalah pantiang adolah jago kepribadian dan akhlak sebagai urang muslim yang tahu dengan ajaran agamo, baik akhlak ka Tuhan, uramng tuo, keluarga, guru, juo akhlak antaro awak samo gadang, dan yang paliaaaaaang pantiang bana, akhlak awak jo lawan jenis, di sampiang hubungan mudo-mudo tu buruak manuruik agamo, adaik, sarato masyarakaik awaak, hal itulah yang banyak manghancuakan generasi mudo pado maso kini ko. Jadi tetap istiqamah yo (kalau indak picayo, anti dicubo, picayo selah ka ustadz).
Jadi, itu mungkin yang bisa ustadz tuliskan, akhirnya ustadz berdoa mudah-mudahan antum semua sukses, dan prestasinya setelah sampai dikelas yang lebih tinggi nanti bisa lebih baik, begitu juga dengan ibadahnya, serta akhlaknya.
Selaku wali kelas, guru, mitra, atau mungkin seorang teman yang sama-sama belajar dengan antum semua, ustadz memohon maaf kepada antum semua, karena dengan keadaan ustadz yang tidak mempunyai banyak pengalaman, etika ustadz yang mungkin belum selayaknya sebagai seorang guru, atau karena sifat ustadz yang suka bergurau, menyindir, atau mungkin mengeluarkan pernyataan-peryataan yang kurang baik, telah membuat kalian kesal, atau mungkin telah menganggu kenyamanan kalian dalam belajar dan menuntut ilmu.
Itu saja yang ustadz sampaikan, mudah-mudahan ukhuwah dan hubungan baik yang telah diukir selama satu tahun kurang lebih, bisa kita pelihara dan kita langgengkan sapai kita kembali pada-Nya.
Billahitaufiq walhidayah
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Kantor Majlis Guru Putra
Jum’at, jam 23.40 WIB, tanggal 2 juli 2004
(tanda tangan)
Ash-roel
Aku menutup surat ini dengan tersenyum. Ada 2 hal yang terlintas di benakku saat itu bahwa seseorang yang surat ini dialamatkan kepadanya memang telah benar-benar menjadi seperti apa yang diharapkan sang ustadz, dan yang kedua adalah bahwa apa yang beliau sampaikan memang telah kurasakan.
Aku adalah seorang yang gagal. Aku benar-benar terpukul saat itu, menyesali nasib, mulai menyerah dan menerka-nerka apakah diriku memang begini adanya, apakah potensiku hanya sebatas ini saja.
Benar adanya bahwa ksesuksesan itu tidak didapatkan dengan duduk bermenung berjam-jam, menikmati alunan syair lagu dengan hembusan angin sepoi-sepoi. Kesuksesan butuh keyakinan, usaha dan doa, aku telah menyadari itu dan bertekad untuk berubah.
Meminjam perumpamaan “apel” diatas bahwa dulu aku adalah biji apel yang gagal menjadi pohon karena tak mampu bertahan dari terpaan dan cobaan, tetapi ternyata biji apel itu belumlah gagal seutuhnya, dia hanya tertimbun di tanah yang dingin, biji apel itu kini siap untuk tumbuh kembali, berjuang untuk hidup, menjadi sebuah pohon apel yang Insya Allah akan menghasilkan buah yang tak terhitung jumlahnya. Inilah aku, aku siap untuk kembali ke medan pertempuran, mengejar ketertinggalan dan menyelesaikan pertarungan dengan kemenangan berada di tanganku Insya Allah.
Syukur tak terhingga kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kedua, terima kasih kepada ustadz Asrul atas motivasi yang telah beliau tuliskan. Akhirnya, semua daya dan upaya tiadalah berarti tanpa Ridhanya sang Khalik, Rabbus samaawati wal ardli, Allah SWT.
Sunday, 7 February 2010
Tanda-tanda Kiamat
Untuk tanda-tanda kecil sepertinya sudah hampir semuanya sudah terjadi. Coba saja dipikirkan mana dari tanda-tanda kecil kiamat berikut ini yang belum terjadi. dan ini meneguhkan saya bahwa tanda-tanda kiamat sudah terjadi 95% tinggal 5% saja yang belum terjadi yakni tanda-tanda besar kiamat. Jadi intinya Kiamat Sudah Dekat (umur bumi ini sudah sangat tua).
Budak wanita atau wanita merdeka akan melahirkan tuannya.
Orang-orang bodoh dijadikan sebagai pemimpin.
Rakyat jelata yang miskin akan tinggal di gedung-gedung yang tinggi menjulang.
Penghalalan atau legalisasi zina.
Penghalalan sutera bagi laki-laki
Penghalalan minuman keras
Musuh memperebutkan kaum muslimin
Salam hanya diucapkan pada yang dikenal
Tidak adanya kehati-hatian manusia dalam mencari rizki yang halal
Banyak dan menyebarnya bohong
Tersebarnya banyak pasar
Wanita ikut bekerja
Banyaknya saksi palsu
Tersebarnya pena
Mesjid hanya dijadikan sebagai jalan
Banyak orang mati mendadak
Banyaknya jumlah polisi
Penjual belian jabatan atau amanah
Memandang remeh kepada darah
Adanya manusia yang menjadikan Al-Quran sebagai seruling
Ilmu agama akan dituntut dari orang yang berilmu dangkal
Munculnya wanita mutabarrijat
Bermegahan dalam membangun mesjid
Orang-orang akan mewarnai rambut mereka dengan warna hitam
Adanya keinginan yang mendalam untuk dapat melihat Nabi Muhammad
Munculnya angan-angan untuk mati
Tersebarnya rumah dan kendaraan untuk setan
Munculnya mobil
Pembunuhan sesama manusia tanpa tujuan
Munculnya cara hidup mewah, manja dan boros
Taklid buta terhadap adat kebiasaan kaum Yahudi dan Nasrani
Terpecahnya umat Islam kepada beberapa kelompok
Kurangnya keberkatan waktu
Munculnya fitnah-fitnah yg menyesatkan
Banyaknya gempa bumi
Seorang laki-laki akan menaati istrinya sedangkan ia durhaka kepada ibunya
Seorang laki-laki bersikap kering kepada ayahnya & lemah lembut pada temannya
Irak dan Syam diboikot dan makanan ditahan darinya
Turki akan memerangi Irak
Gencatan senjata dan perdamaian kaum muslim dengan Rum
Tanda-tanda Besar Kiamat
Kalo tanda-tanda besar kiamat berikut saya yakin belum terjadi satupun. Ingat ada hadist yang mengatakan bahwa apabila dajjal besar (Al-Masih Dajjal) sudah muncul tapi manusia tsb belum beriman maka sia-sialah imannya, waduh saya jadi ngeri nih, Semoga saja saya punya iman yang kuat dan telah bertobat sebelum Dajjal besar nanti muncul.
Munculnya dajjal
Turunnya Nabi ‘Isa bin Maryam (setelah “40” hari dajjal di bumi)
Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj
Terbitnya matahari dari tempat terbenamnya
Keluarnya binatang bumi (Al Jassasah)
Keluarnya asap
Pembenaman bumi di Timur, Barat, semenanjung Arabia.
Keluarnya api dari dasar teluk Aden
Tuesday, 22 December 2009
A Confession to My Mom
Tepat hari ini adalah hari dimana di Indonesia di peringati hari ibu. Memang di Islam tidak ada hari Ibu, hari Ayah atau hari-hari lainnya semacam itu. Tetapi walaupun begitu tidak ada salahnya dihari Ibu ini kita mengenang kembali seorang sosok yang begitu mulia. Seorang sosok wanita pantang menyerah yang rela mencurahkan segala kasih sayang, waktu, tenaga untuk anaknya tercinta.
Banyak dari kita lupa atau sengaja melupakan jasa-jasa Ibu kita. Siapa bilang jasa Ibu hanya sebatas mengandung, melahirkan dan membesarkan saja. Lebih dari itu, Ibu lah yang mengajari kita menghadapi hidup, Ibu yang memperkenalkan kita dengan dunia. Kekuatan Ibu melebihi kuatnya gunung-gunung yang menopang bumi ini dan kelembutannya melebihi lembutnya sutra terlembut di bumi ini.
Sebuah lagu:
Who should you give your love to?
Your respect and your honour to?
Who should you pay good mind to - after Allah,
And Rasullullah?
Comes your Mother,
Who next? Your Mother
Who next? Your Mother
And then you Father
Cause who used to hold you
And clean you and clothe you?
Who used to feed you
And always be with you?
When you were sick, stay up all night,
Holding you tight?
That’s right no other, your Mother
Who should you take good care of,
Giving all your love?
Who should you think the most of - after Allah
And Rasullullah?
Comes your Mother,
Who next? Your Mother
Who next? Your Mother
And then you Father
Cause who used to hear you
Before you could talk?
Who used to hold you
Before you could walk?
And when you fell, who’d pick you up?
Clean your cut?
No one but, your Mother, your Mother
Who should you stay right close to?
Listen most to?
Never say no to – after Allah
And Rasullullah?
Comes your Mother,
Who next? Your Mother
Who next? Your Mother
And then you Father
Cause who used to hug you
And buy you new clothes?
Comb your hair and blow your nose?
And when you cried who wiped your tears?
Knows your fears? Who really cares?
Your Mother
Say Alhamdulillah,
Thank you Allah
Thank You Allah for my Mother
Yusuf Islam - Your Mother
Lagu ini diadaptasi dari sebuah hadist. Rasulullah menekankan 3 kali mencintai Ibu setelah Allah dan Bapak lah yang keempat. Cobalah renungkan apa makna dibalik itu semua.
Sebuah kisah:
Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. "Ibu, mengapa Ibu menangis?". Ibunya menjawab, "Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak". "Aku tak mengerti" kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. "Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti...." Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. "Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?"Sang ayah menjawab, "Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan". Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.
Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis. Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan."Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?
"Dalam mimpinya, Tuhan menjawab,"Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama.
Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman danlembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur. Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, danmengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu. Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.
Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah. Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.
Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan enjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.
Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkanperasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan".
Oleh karena itu, Sayangi dan lindungi Ibu bagi yg merasa masih memiliki ibu dan selagi ibu kita masih ada sebelum kita menyesal.
Nah, semua ini tak lain dan tak bukan kupersembahkan untuk seorang wanita mulia, yang dengan sabar terus mendidik ku hingga sekarang, walaupun terkadang aku begitu sering mengabaikan segala perintahnya.
Ibu, sungguh cinta ku padamu melebihi cinta ku pada diriku sendiri, entah dengan apa dan bagaimana aku membalas segala air mata dan keringatmu.
Ya Rabb, ampuni segala dosa seluruh wanita mulia di bumi ini. Lapangkan hidup mereka, panjangkan umur mereka, luaskan rezeki mereka.
Ibu, Aku mencintaimu.
Chorus
Mother, how are you today?
Here is a note from your daughter.
With me everything is ok.
Mother, how are you today?
Mother, don't worry, I'm fine.
Promise to see you this summer.
This time there will be no delay.
Mother, how are you today?
Verse
I found the man of my dreams.
Next time you will get to know him.
Many things happened while I was away.
Mother, how are you today?
Maywood - Mother How Are You Today
Thursday, 17 December 2009
Selamat Tahun Baru Hijriah 1 Muharram 1431
Semoga kita selalu diberi ampunan dan rahmat oleh Allah SWT.
New Year's the right moment to change.
Tuesday, 15 December 2009
Detik-detik Sakaratul Maut Rasulullah SAW
Inilah bukti cinta yang sebenar-benarnya tentang cinta, yang telah dicontohkan Allah SWT melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit mulai menguning di ufuk timur, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayapnya.
Rasulullah dengan suara lemah memberikan kutbah terakhirnya, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, al-Qur’an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku.”
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasul yang tenang menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” keluh hati semua sahabat kala itu.
Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Di saat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
“Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk.
“Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah.
“Siapakah itu wahai anakku?”
“Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah.
Fatimah menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut telah datang menghampiri. Rasulullah pun menanyakan kenapa Jibril tidak menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.
Tapi, semua penjelasan Jibril itu tidak membuat Rasul lega, matanya masih penuh kecemasan dan tanda tanya.
“Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril lagi.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak, sepeninggalanku?”
“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril meyakinkan.
Detik-detik kian dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan-lahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakitnya, sakaratul maut ini.” Perlahan terdengar desisan suara Rasulullah mengaduh.
Fatimah hanya mampu memejamkan matanya. Sementara Ali yang duduk di sampingnya hanya menundukan kepalanya semakin dalam. Jibril pun memalingkan muka.
“Jijikkah engkau melihatku, hingga engkau palingkan wajahmu Jibril?” tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril sambil terus berpaling.
Sedetik kemudian terdengar Rasulullah memekik kerana sakit yang tidak tertahankan lagi.
“Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku,” pinta Rasul pada Allah.
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali pun segera mendekatkan telinganya.
“Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
“Ummatii, ummatii, ummatiii?” Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran kemuliaan itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya. Seperti Allah dan Rasul mencintai kita semua.________________
Source: http://sarungkabayan.wordpress.com/2009/08/30/detik-detik-sakaratul-maut-rasulullah-saw/